Selasa, 13 April 2010

Karunia-Mu Sungguh Indah dan Luar Biasa

Alhamdulillah... Begitu besar karunia yang telah Allah SWT berikan padaku. Namun, sungguh kecil rasa syukurku atas nikmat yang telah Allah berikan itu. Begitu bodohnya diriku, bila ku hanya bisa menyesal dan merengek dalam menjalani hidup ini. Ampunilah hambaMu ini Ya Rabb.

Dimulai dari orang tua yang telah membesarkan aku. Begitu besar rasa kasih sayang yang telah mereka curahkan kepada ku dan adik-adikku. Sewaktu aku kecil, aku selalu merengek meminta sesuatu pada mereka. Dan apa yang mereka lakukan? Mereka "para pejuang" dalam hidupku, berusaha untuk memenuhi segala keinginanku begitupun dengan adik-adikku. Tak pernah terlihat rasa sesal atas apa yang telah mereka berikan untukku. Dengan beribu keikhlasan dan kesabaran mereka tak kenal lelah untuk terus mengasuh dan membimbingku. Tapi, betapa bodohnya diriku, setelah apa yang telah mereka berikan padaku. Apa yang telah aku lakukan? Hanya ocehan dan bantahan yang aku lontarkan dari mulut yang penuh dosa ini. Betapa menyesalnya diriku saat ini.

Terima kasih Ibu, engkau telah mengandungku Sembilan bulan lamanya. Tanpa rasa menyesal dan lelah yang luar biasa, engkau selalu sabar dan mengelus perutmu sambil berdoa “semoga kelak engkau menjadi anak yang shaleh”, tapi, apa yang telah aku lakukan sekarang? Tanpa aku sadari aku telah menyakiti perasaanmu. Engkau pernah berkata padaku, “Janganlah pernah kau membuat ibumu ini menangis karena tersakiti oleh perbuatanmu, karena kau tau? Air mata ini adalah api neraka bagimu”. Pernah satu kali aku melihat ibu menangis karena ulahku, aku merasa berdosa dan menyesal, tanpa aku sadari aku telah menyiramkan api neraka ke tubuhku sendiri. Maaf ibu, Ampuni hamba Ya Rabb.

Terima kasih Bapak, teringat olehku ketika aku memintamu mengantarkan aku ke toko buku yang sangat luar biasa jauhnya itu. Engkau senantiasa mengantarku hanya untuk membeli sebuah buku yang harganya hanya Rp. 20.000. Jarak antara rumah dan toko buku yang sangat jauh, terik matahari yang sangat menyengat sampai membuatmu berkeringat, dan hujan yang terus mengguyur sampai membuatmu kedinginan. Dengan sebuah sepeda motor dan pengetahuan yang nol tentang alamat toko buku itu, engkau tak kenal lelah mengantarku membeli buku. Sampai aku sadar ketika ban sepeda motor pecah, kau harus mengeluarkan uang Rp. 12.000. Bukan ku menyesal karena kehilangan uang Rp. 12.000, tapi yang aku sesali, karena aku tidak patuh pada nasehatmu itu. Sebelum berangkat ke toko buku, kau berkata, “Jangan sekarang beli bukunya, Bapak capek, photo copy sajalah bukunya biar Bapak yang bayar”. Dan aku menolaknya. Aku menyesal sekali tidak taat pada nasihat orang tua. Saat di perjalanan aku meminta maaf pada Bapak, “Pak, maafin Rana. Rana nyesel. Nanti Rana bakal nurut deh”, kataku dengan tersedu-sedu. Tapi, apa yang Bapakku lakukan? Bukan sebuah omelan atau dendam, tapi, kata-kata yang keluar pada saat itu adalah kata-kata penyemangat, meneduhkan hati. Alhamdulillah… Rana bersyukur banget, Rana anggap perjalanan ini adalah ujian yang indah yang memberikan hikmah yang sangat indah melebihi ujian yang telah Allah berikan. Dari kejadian itu, Rana sadar, bahwa kita harus taat pada nasehat orang tua, toh itu demi kebaikan kita juga. Itu yang pertama. Yang kedua, tetaplah ikhlas, sabar, dan ikhtiar dalam menjalani ujian Allah (bagiku hari yang aku lewati saat ini adalah ujian dari Allah, ujian yang selalu mengujiku, apakah aku tetap bersabar, ikhlas, dan senantiasa bersyukur dalam menjalani rencana Allah atau tidak?). Yang ketiga, selalu bersyukur dalam keadaan bagaimanapun. Disaat sedih, susah, senang, dan disaat bagaimanapun. Yakin deh… semakin kita sering bersyukur maka semain besar nikmat yang akan Allah berikan kepada kita. Semakin kita teguh dan berhasil menjalani ujian Allah, maka semakin berat ujian itu, semakin banyak hikmah yang kita dapat, serta semakin meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Illahi Rabbi.

Semangat! Dan ingat selalu akan ada kemudahan di atas kesulitan. Tetap berserah diri kepada Allah, karena hidup dan mati kita kembali padanya. Rencana Allah lebih baik daripada rencana lainnya, karena rencana Allah akan memberikan yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat kita. Tergantung pada kita, bagaimana cara kita dalam menjalani rencana Allah.

Terima kasih aku ucapkan kepada PARA PEJUANG hidupku “Ibuku, ibu Cucu Herlina dan Bapakku Bp. Muh. Tahir serta Adik-Adikku”. Berkat semangat yang kalian kobarkan untukku, Alhamdulillah… aku tetap semangat menjalani hidup ini untuk mencari ke Ridho-an Allah.

Alhamdulillah! Luar Biasa! Siap Berprestasi! Allahu Akbar!

Saudaramu,

Rana Ida Sugatri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar